malam
minggu kembali menyapa..
dan seperti biasa, setiap malam minggu aku duduk didepan
laptopku menunggu dia,, kadang aku merasa iri dengan teman-temanku yang bisa
bertemu kapan saja denga pacarnya, bahkan kadang aku suka dijadikan obat nyamuk
oleh mereka. aku ingin sekali merasakan hal itu, berjalan bersama sambil
bergandengan, tertawa, dan hal-hal yang biasa remaja lain lakukan bersama
pacarnya.. karena sudah 2 tahun terakhir aku tidak pernah melalukannya bersama
dia..
tapi untuk bisa seperti itu aku harus menunggu dia
pulang, yaah, itulah nasib hubungan jarak jauh, tapi hubungan ku dengan dia
bukanlah hubungan yang dipisahkan dengan jarak puluhan kilometer saja. tapi
hubungan kami menyebrangi benua..
dia di inggris menuntut ilmu, untuk menjadi atlet sepak
bola yang handal, seperti cita-citanya. aku merasa bangga karena aku memiliki
kekasih seperti dia, apalagi saat dia bertanding dan berhasil mencetak gol.
tapi aku juga tidak bisa memungkuri bahwa, aku ingin dia ada disini bersamaku..
menjalani hubungan kami selayaknya hubungan remaja pada umumnya..
tapi perasaan ini bukan milikku seorang ternyata dia juga
merasakan hal yang sama denganku, kadang dia bertanya “apa kamu merasa lelah
menjalani hubungn ini??” aku tidak bisa menjawab, rasa sayangku jauh lebih
besar daripada rasa lelahku menjalani hubungan jarak jauh seperti ini. walau
kadang tak bisa dipungkiri godaan untuk menduakan datang. “sudah 2 tahun kita
menjalani hubungan jarak jauh, kita hanya bisa berhubungan lewat dunia maya,
yang walaupun dilakukan sesering apapun tidak akan pernah bisa memeuhi rasa
ingin bertemu. tidak betul-betul bisa bertemu, tidak bisa menjalani hubungna
layaknya remaja seusia kita, apa kamu tidak merasa lelah??” tanyanya lagi.
dari layar laptopku terlihat wajahnya yang sendu. “kalau
aku merasa lelah bagaimana??” tanyaku balik, tanpa menjawab pertanyaannya. “aku
akan rela membiarkanmu pergi, aku tidak ingin membuatmu merasa tersiksa dengan
hubungan ini. bukankah kau sering mengeluh tentang masalah ini”. dia menjawab
dengan muka yang setengah rela, tapi tetap mencoba mengatakan itu dengan mimik
tegas dan ikhlas.
“aku memang merasa lelah dengan hubungan ini, dan jujur
godaan untuk menduakanmu sangat besar. tapi aku tidak pernah merasa tersiksa
dengan hubungan kita ini. aku justru merasa bahagia dengan hubungan ini, dari
hubungan ini aku belajar bagaimana makan kesetian, kepercayaan. aku bukan anak
baru yang menjalani hubungan jarak jauh, aku sudah 2 tahun menjalani hubungan
jarak jauh denganmu. apakah kau berfikir aku akan menyerah begitu saja??” aku
mencoba jujur pada diriku sendiri dan dia. “aku memang sering mengeluh karena
intensitas pertemuan kita yang sangat jarang, maaf, mungkin karena sikap
egoisku dan iriku ada teman-teman, harusnya aku lebih bisa mengerti keadaanmu”
aku mencurahkan semuanya, tanpa ada satu hal pun yang aku tutupi. dia tersenyum.. walaupun
pertemuan kami dalam setahun bisa dihitung dengan jari tangan, komunikasi harus
terganggu dengna jadwal latihan yang padat, tapi kami berusaha untuk jujur satu
sama lain, memberikan kepercayaan, dan menjaga kepercayaan satu sama lain.
“hubungan jarak jauh itu cukup melelahkan tapi ternyata
kita mampu melewati itu. terimakasih atas kepercayaan dan kesetian yang telah
kamu berikan untukku. aku akan pulang untukmu” senyum mengembang merekah
dipipiku, aku tidak bisa menutupi rasa bahagiaku.
“aku tunggu kamu disini” aku dan dia sama-sama terseyum.
inilah perjuangan hubungan jarak jauh, dan kami berhasil melewatinya..
J J J J J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar