Rabu, 04 April 2012

LDR


malam minggu kembali menyapa..
dan seperti biasa, setiap malam minggu aku duduk didepan laptopku menunggu dia,, kadang aku merasa iri dengan teman-temanku yang bisa bertemu kapan saja denga pacarnya, bahkan kadang aku suka dijadikan obat nyamuk oleh mereka. aku ingin sekali merasakan hal itu, berjalan bersama sambil bergandengan, tertawa, dan hal-hal yang biasa remaja lain lakukan bersama pacarnya.. karena sudah 2 tahun terakhir aku tidak pernah melalukannya bersama dia..
tapi untuk bisa seperti itu aku harus menunggu dia pulang, yaah, itulah nasib hubungan jarak jauh, tapi hubungan ku dengan dia bukanlah hubungan yang dipisahkan dengan jarak puluhan kilometer saja. tapi hubungan kami menyebrangi benua..
dia di inggris menuntut ilmu, untuk menjadi atlet sepak bola yang handal, seperti cita-citanya. aku merasa bangga karena aku memiliki kekasih seperti dia, apalagi saat dia bertanding dan berhasil mencetak gol. tapi aku juga tidak bisa memungkuri bahwa, aku ingin dia ada disini bersamaku.. menjalani hubungan kami selayaknya hubungan remaja pada umumnya..
tapi perasaan ini bukan milikku seorang ternyata dia juga merasakan hal yang sama denganku, kadang dia bertanya “apa kamu merasa lelah menjalani hubungn ini??” aku tidak bisa menjawab, rasa sayangku jauh lebih besar daripada rasa lelahku menjalani hubungan jarak jauh seperti ini. walau kadang tak bisa dipungkiri godaan untuk menduakan datang. “sudah 2 tahun kita menjalani hubungan jarak jauh, kita hanya bisa berhubungan lewat dunia maya, yang walaupun dilakukan sesering apapun tidak akan pernah bisa memeuhi rasa ingin bertemu. tidak betul-betul bisa bertemu, tidak bisa menjalani hubungna layaknya remaja seusia kita, apa kamu tidak merasa lelah??” tanyanya lagi.
dari layar laptopku terlihat wajahnya yang sendu. “kalau aku merasa lelah bagaimana??” tanyaku balik, tanpa menjawab pertanyaannya. “aku akan rela membiarkanmu pergi, aku tidak ingin membuatmu merasa tersiksa dengan hubungan ini. bukankah kau sering mengeluh tentang masalah ini”. dia menjawab dengan muka yang setengah rela, tapi tetap mencoba mengatakan itu dengan mimik tegas dan ikhlas.
“aku memang merasa lelah dengan hubungan ini, dan jujur godaan untuk menduakanmu sangat besar. tapi aku tidak pernah merasa tersiksa dengan hubungan kita ini. aku justru merasa bahagia dengan hubungan ini, dari hubungan ini aku belajar bagaimana makan kesetian, kepercayaan. aku bukan anak baru yang menjalani hubungan jarak jauh, aku sudah 2 tahun menjalani hubungan jarak jauh denganmu. apakah kau berfikir aku akan menyerah begitu saja??” aku mencoba jujur pada diriku sendiri dan dia. “aku memang sering mengeluh karena intensitas pertemuan kita yang sangat jarang, maaf, mungkin karena sikap egoisku dan iriku ada teman-teman, harusnya aku lebih bisa mengerti keadaanmu”
aku mencurahkan semuanya, tanpa ada satu hal  pun yang aku tutupi. dia tersenyum.. walaupun pertemuan kami dalam setahun bisa dihitung dengan jari tangan, komunikasi harus terganggu dengna jadwal latihan yang padat, tapi kami berusaha untuk jujur satu sama lain, memberikan kepercayaan, dan menjaga kepercayaan satu sama lain.
“hubungan jarak jauh itu cukup melelahkan tapi ternyata kita mampu melewati itu. terimakasih atas kepercayaan dan kesetian yang telah kamu berikan untukku. aku akan pulang untukmu” senyum mengembang merekah dipipiku, aku tidak bisa menutupi rasa bahagiaku.
“aku tunggu kamu disini” aku dan dia sama-sama terseyum. inilah perjuangan hubungan jarak jauh, dan kami berhasil melewatinya..
J J J J J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar