Hari ini, Kyana sampai lebih cepat 10menit dari pada Lena, sambil menunggu
Lena datang cewek keturunan jepang ini membuka novel tebal yang sudah sebulan
ini ia baca, tapi ia belum juga menyelesaikan membacanya karna tidak ada
waktu.novel itu berkisah tentang perpisahan kedua orang kekasih yang dipisahkan
oleh takdir. sekitar 2 menit kemudian ada yang datang, tapi Kyana tidak tau itu
siapa, ia tetap fokus pada bukunya. tapi orang yang baru datang itu menaruh
tasnya didepan bangkunya, kontan ia melihat siap orang itu, ternyata Ari..
“hai, udah dateng?” tanyanya basa-basi
“keliatannya?” Kyana jutek
sejadi-jadinya
“yaelah gue kan Cuma nanya, kenapa sih
lo jutek banget sama gue?”
Kyana tersenyum “iya, maaf, gue gak
maksud jutek kok., gue nungguin Lena, tapi gak dateng-dateng”
Ari agak kaget dengan jawaban yang
disertai senyum itu “nah gitu kek, jangan jutek gitu sama gue.. lagi baca buku
apa?” tanyanya dengan senyum juga
“novel roman gitu, tumben dah dateng?”
“iya dong, gue sebenernya tuh niat banget
sekolah, tapi jalanan aja yang kadang gak ngedukung gue buat dateng cepet,
macet nyoh!! taukan jakarta kayak apa?” Kyana hanya mengangguk dan tersenyum
mendengar alasan yang dikemukakan Kyana. “gue pikir lo gak bisa senyum?’ tanyan
Ari.
“apa?” Kyana kurang mendengar apa yang
dikatakan Ari.
“gak, gak jadi” Ari malu untuk
mengulang pertanyaan yang mungkin lebih tepat dijadikan pernyataan itu.
“hai, hai” Lena yang baru datang
langsung heboh menyapa “cie berduaan aja? ajak-ajak dong berduaan aja” goda Lena
“hahaha, yaudah monggo sini ikut ngumpul,
tapi jangan ganggu gue sama Kyana lagi pacaran ya?” goda Ari kembali, Kyana
kaget dengan pernyataan Ari itu, tapi ia menyadari itu hanya sebuah bualan
belaka.
“wah, elu ya? jadian gak bilang-bilang
sama gue? cuktaw deh. hehehe”
“yee, katanya mau JB tapi kok berisik
sih?”
“hmm , iya deh tau, emang nasib ya,
jadi jomblo Cuma bisa jadi obat nyamuk”
“”jangan cemburu gitu dong, nanti gue
cariin deh” kata Kyana dengan senyum yang terus mengembang.. mendengar
ucapan-ucapan Kyana barusan, membuat Ari jadi kaget sendiri, tak percaya cewek
seperti Kyana bisa bercanda seperti itu
“udah sama gue aja na, mau gak?” Radit
yang baru datang langsung mencalonkan diri, dan merangkul Lena dari belakang
agar Lena memilihnya. “gue gak jelek-jelek amat kok, cocoklah sama lu” kata Radit
sambil tersenyum.
“boleh juga,” Lena mempererat rangkulan
radit.
“eh nanti pulang hang-out bareng yuk??
bokap gue bar pulang jadi gue baru dapet duit nih, gue traktir maugak?” Radit
menawarkan traktiran pada teman-temannya, dan melepaskan rangkulan tangannya
dari Lena.
“wah, boleh tuh.” traktiran itu
langsung disambut antusias oleh Ari.
“kalian gimana?” sekarang Radit
bertanya pada Kyana dan Lena
“kayaknya hari ini gue sama Kia gak
bisa deh, kita harus kerja kelompok, gimana kalo besok aja?” saran Lena.
“yaudah besok aja deh”
“yah, masa ditunda sih” Ari protes
pulang dari sekolah Kia, Gendis, Lena,
Mita dan Tira kera kelompok wawancara disekolah, Kia dan Mita kedapatan
mencatat dan menulis kembali isi wawancara, jadi sembari menunggu yang lainnya
sedang wawancara dengan beberapa guru diruang guru mereka duduk di bangku depan
ruang guru yang menghadap ke lapangan. Kia bingung harus apa, diam berdua
dengan Mita seperti ini membuat dia merasa risih sendiri, memulai
pembicaraanpun Kia bingung, karna memang Mita orangnya sangat pendiam. tapi
dilihatnya Mita sedang memperhatikan Cakra yang sedang main bola dilapangan.
Cakra juga teman sekelas Mita dan Kia tapi cowok satu ini agak sedikit dingin
dan sangat tertutup saat dikelas.
“lo ngeliatin apa?” tanya Kia penasaran
“eh..” Mita tersadar dari lamunannya
“enggak kok, gak ngeliatin apa-apa,,”
“tapi yang gue liat lo dari tadi lagi
merhatiin Cakra tuh”
“Cakra? ngapain banget aku ngeliatin
dia” Mita terlihat salah tingkah
“mungkin karna kamu suka sama dia”
tebak Kia. belum dijawab Mita, Kia sudah bisa menyimpulkan sendiri, itu
terlihat dari raut wajah Mita yang berubah merah. “udah jujur aja” Mita hanya
menjawab dengan senyum yang bermaknakan kata “ya”
“wooi, balik yuk? wawancaranya dah
selesai kok” ajak Lena
“ya ampun, ngagetin aja deh lo”
“hehehe, ni Mit, lo yang nulis isi
wawancaranya kan?”
“iya”
“nih bawa pulang, tapi besok jangan
lupa dibawa lagi ya,biar diketik sama Kia”
“iya, besok aku bawa lagi, nanti malem
aku kerjain”
“ok”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar