Rabu, 18 Juni 2014

Kerikil


Aku duduk di taman sekolah sambil memperhatikan dia. ya dia.. sosok yang  berhasil merebut perhatianku selama 2 tahun ini. Aku baru mengenalnya semenjak naik ke kelas 2 SMP, awalnya aku tidak mengenalnya, tapi karna teman-temanku suka bersamanya lambat tapi pasti aku mengenalnya dengan baik. aku sunguh berterimakasih pada teman-teman ku yang membuat aku mengenalnya.
Hari ini dia sedang terduduk sendirian dikelasnya, semenjak naik ke kelas 3 dia memang terlihat lebih murung daripada biasanya. aku menghampirinya untuk sekedar menghiburnya sedikit, berhasil dia merasa terhibur dengan kehadiranku. Aku mencoba naik sedikit, dengan meminta nomer telfonnya, dia memberikannya dengan senang hati, betapa senangnya aku bila dia tidak merasa terganggu dengan permintaanku.
Aku ragu ketika ingin menekan tombol “sent” pada ponselku, aku sudah mengetik sms untuk dia dari 10 menit yang lalu, namun aku belum punya cukup keberanian untuk mengirimnya. berbagai pertanyaan berkecamuk dikepalaku, “akankah dia merasa terganggu?”
aku sudah menunggu ini hampir 2 tahun lamanya. aku pernah menyia-nyiakan kesempatanku, akankah aku mengulanginya lagi kali ini? aku pernah ‘kehilngan’ dia selama 3 bulan. bayangan itu hadir, bayangan yang menampilkan saat aku kehilangan dia..
Aku menghisap minumaku hingga setengahnya habis, rasanya lelah sekali habis bermain futsal di tengah hari bolong. aku sedang kumpul bersama teman-temanku dikantin sambil bercerita ngalor-ngidul. awalnya kami bercerita tentang bola lalu cewek yang kami taksir, hingga akhirnya membicarakan dia. aku tidak mengerti kenapa arah pembicaraan kami jadi membawa dia. hingga akhirnya temanku edo menjawab semua rasa penasaranku.
Edo dan dia kini sedang dekat, dan edo ada rencana inigin menyatakan perasaanya pada dia. aku senang mendengar edo yang sudah bisa move on, tapi kenapa harus dia orangnya. kabar bahagia yang menjadi badai dalam diriku . Aku tau edo dan dia akhir-akhir ini memang dekat, tapi aku tak menyangka hubungan mereka akan lebih dari sekedar sahabat.
Aku tau dimana posisi ku.. kalau dibandingkan dengan edo, jelas aku akan jauh dibawahnya. aku sudah kehilangan start lebih awal. edo dan dia sudah dekat dari 2 bulan yang lalu, hubungan persahabatan mereka pun sangat harmonis. aku tau dia pun juga menyimpan perasaan untuk edo. aku harus merelakannya dengan edo..
edo dan dia akhirnya resmi pacaran. aku senang melihat dia senang walaupun tidak bersamaku. ada kata-kata yang bilang “cinta tak harus memiliki” aku tak percaya akan kata-kata itu, buat ku cinta itu harus memiliki, apakah kamu sanggup melihat orang yang kamu sayang dengan orang lain? kalau aku tidak, tidak sama sekali. namun au percaya akan kata-kata lain “kita akan ikut senang bila melihat orang yang kita sayangi juga senang” aku percaya itu. karna begitulah yang aku rasakan. melihat dia tersenyum untuk edo itu sangat menyakitkan. tpai melihat dia tersenyum manis seperti itu membuat hatiku damai. itu yang membuatku bisa bertahan.
aku tak mengerti kekuatan apa yang dimiliki dia, hingga bisa membuatku menjadi seperti ini. aku menjadi seorang yang jahat. melihat dia dan edo selalu harmonis membuat ku menyelipkan sedikit doa kotor “tuhan buatlah mereka cepat putus” berdosakah aku?
Hingga maria datang ke dalam hidupku. aku tak begitu menyukai gadis ini, bahkan aku tak menyukai gadis ini. tapi suatu hari aku menghampirinya dan menyatakan perasaanku padanya. dia menerimaku. yaaah. maria memang terkanal mudah menerima orang dalam hatinya.  saat aku mengabari teman-temanku dengan kabar ini, dia meledekku “kok lu mau sih sama dia? haha selamet yaa, jangan lupa pj yang paling banyak buat gue” tawanya dengan manis.
kini aku menjalani hari-hariku bersama maria, dan dia  masih bersama edo. tapi hari ini aku tidak mau membohongi diriku lagi dan terus menyakiti hati maria dengan berpura-pura bahwa aku sayang padanya. aku bukanlah orang jahat. aku memutuskan hubunganku dengan maria, padahal baru berjalan selama seminggu. tapi dia? dia masih bersama edo.
3 bulan kemudian terkabullah doa kotor ku. akhirnya edo dan dia putus, aku merasa sedih saat melihat dia menatap edo dengan tatapan nanar. tapi aku merasa bahagia karna inilah kesempatan bagiku. tapi aku masih tidak dapat menjadi orang baik seutuhnya lagi. aku masih seorang yang jahat, karna aku ingin seperti ini mempengaruhi dia agar dia membenci edo.
Ternyata selain aku, dia masih mempunyai sahabat yang begitu peduli padanya. entah apa yang dimilikinya sampai semua orang begitu peduli dan menyayanginya. salah satunya pian, sahabatku juga sahabatnya. kabar burung selalu menyebutkan dia dan pian telah menjadi sepasang kekasih tetapi setiap kali aku menkonfirmasi kepadanya dia hanya menjawab dengan tawa “lo udah berapa lama sih kenal gue sama pian? gue sama pian gak mungkinlah, dia itu sahabat gue” jawaban itulah membuatku tenang. harapanku terus membumbung seyiap harinya.
sudah setahun sejak edo dan dia putus, tapi dia belum juga menemukan kekasih baru. aku pun juga belum berani  menyatakan perasaanku padanya, gosip akan kedekatannya dengan pian pun masih terdengar tapi selalu berhasil terbantahkan.
sudah seminggu ini aku sms-an sama dia setelah berhasil mengumpulkan keberaniann menekan tombol ‘sent’ malam itu. aku tidak bisa menunggu lagi, aku akan menyatakan perasaanku malam ini juga padanya. aku sudah menunggu selama 2 tahun apa itu masih belum cukup??
“gue mau ngomong sesuatu nih, qi” aku berdoa sebelum berhasil menekan tombol ‘sent’
“ngomong apa?”
“tapi jangan marah ya? K
“gak lah gak akan, emang mau ngomong apa sih?”
“gue suka sama lo qi <3” tidak ada balasan dari Qinan.
“kok bisa?”
“gak tau deh K
“semenjak kapan?”
“dari sebelum lo jadian sama edo qi L
“kok lo gak bilang dari dulu”
“elu nya udah sama edo duluan. gimana qi? L
“gue gak tau han mau jawab apa, gue mau fokus UN dulu”
“yaudah deh gapapa J lo fokus aja ke UN dulu yaa J nanti jawabnya pas udah UN aja.”
“iya”
besok UN. tapi aku masih tidak bisa berkonsentrasi penuh dengan pelajaran yang diotakku hanya Qinan. UN hari pertama, aku mencari Qinan. Qinan keluar dari ruangannnya, aku tidak berani mendekat hanya berani memperhatikannya dari jauh, Qinan melihatku juga. ada sebersit rasa khawatir diwajahnya lalu dia tersenyum manis seperti biasanya. sekarang aku memiliki keberanian untuk mendekat.
“hai” sapaku, berusaha menutupi rasa canggung. aku mengangkat tangan kananku untuk mengajak Qinan tos
“hai” sambil membalasnya, biasanya tangan Qinan akan langsung jatuh kebawah kembali. tapi kali ini aku membiarkan tangan Qinan tetap ada di genggamanku, Qinan pun terlihat tidak masalah dengan itu.
“gimana UN nya bisa gak?”
“alhamdullilah bisa”
“gimana jawabannya?”
“emang sekarang ya?” Qinan malah balik bertanya
“emang kapan lagi?”
“katanya abis UN, gue pikir kalo abis UN itu bener-bener abis UN han”
“oh iya iya, yaudah deh gapapa”
“yaudah , gue pulang dulu ya han”
“ati-ati ya”
hari ini tangan Qinan berada dalam genggamanku, mengingat hal itu saja membuatku senyum-senyum sendiri dikamar. apalagi kalo Qinan menerima ku menjadi kekasihnya, aku tak bisa membayangkan kesenangan apa yang akan aku rasakan.
hari yang aku tunggu-tunggupun datang. aku tidak bisa menebak jawaban apa yang akan diberikan Qinan padaku. aku tidak berkonsentras pada LJK dihapanku, aku memutuskan untuk mengumpulkan lebih cepat. saat keluar kelas, aku melihat Qinan sedang berdiri ditangga, aku ingin menghampirinya tapi aku teralu takut, kakipun kaku. ku urungkan niatku. tapi aku merasa Qinan menungguku menghampirinya, tapi aku masih (berpura-pura) asik dengan teman-temanku.
aku tidak bisa berakting lagi tidak memperdulikan Qinan, aku segera menghampirinya. tapi saat aku mendekat Qinan malah menghindariku, dia pergi ke pendopo sekolah bersama teman-temannya. saat pengumuman di pendopo aku terus memperhatikan Qinan yang duduk jauh dariku, aku tau sesekali Qinan pun memperhatikan aku. bubaran pengumuman aku menhampiri Qinan.
“Qinan. gimana UN nya?” seperti biasa aku mengangkat tangan
“lancar, lancar” Qinan menyambutnya. lagi, tangan Qinan ada digenggamanku. Qinan memperhatikan tangannya yang ada dalam genggaman ku dan tersenyum samar. tapi aku tak bisa menyembunyikan rasa senangku, sangking tak bisa menyembunyikan perasaanku aku malah pergi meninggalkan Qinan.
“gue ngumpul sama anak-anak ya” Qinan hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan.
Aku duduk di bawah pohon diujung lapangan basket bersama teman-temanku. aku tak sabar mendengar jawaban Qinan,tapi aku tak punya keberanian untuk menanyakannya.
aku mendengar suara Qinan dan teman-temannya. dia akan pulang. tapi dia belum menjawab pertanyaanku. aku berfikir untuk meminta jawabannya lewat sms saja. sampai salah satu temanku rexi nyeletuk yang bikin nyawa ku mau copot “Qinan, jawab dong ini si rehan!”
“loh emang kenapa?” tanya Doni
“si Rehan kan nembak Qinan’
“oh.” doni beroh pangjang “gimana Qi?”
“lo beneran suka gak sih sama gue han?”
aku menghampiri Qinan, dan berdiri tegak dihadapannya “iya qi.dari sebelum lo sama Edo”
“tapi kenapa gak dari dulu aja han? kenapa gak dari dulu lo deketin gue, malah ngebiarin gue sama Edo”
“karna gue rasa gue gak punya kesempatan”
“tapi gue gak bisa percaya. apalagi lo baru ngedeketin gue seminggu doang”
“qi, gue harus ngapain lagi sih biar lo percaya?”
“makan tanah aja han” suruh dira tapi maksudnya becanda. Rehan yang sedang tidak bercanda langsung mengiyakan perintah dira. aku mengambil sedikit tanah dan memasukannya ke dalam mulut.
“rehan” teriak Qinan kaget “gak perlu gitu”
“gapapa. biar lo percaya sama gue”
Qinan sudah akan mengatakn ‘ya’ tapi sahabatnya Rere mengingatkannya untuk jujur pada perasaannya. “maaf han, gue gak bisa.”
“oh yaudah gapapa” aku bersikap seolah tidak terjadi apa-apa padaku, aku memberikan senyum sebisaku pada Qinan. aku hancur. aku berusaha menghindari Qinan
“maaf han, lo gak marah kan sama gue”
“gak lah, gapapa Qi”
aku dan hatiku hancur. tak bisa aku mendeskripsikan betapa hancurnya aku saat ini. aku tidak bisa membenci Qinan. aku mengerti posisinya dia juga sakit sama seperti aku. aku yang salah. aku selalu menyia-nyiakan kesempatan yang ada, aku tak pernah menunjukan rasa sayangku ini pada Qinan, aku hanya menunjukannya lewat hal-hal tersamar. perhatianku masih kalah dengan perhatian pian kepada Qinan. perjuanganku tak sebesar perjuagan Edo untuk mendapatkan Qinan. aku hanya mendekati Qinan selama seminggu, jelas Qinan tidak akan percaya padaku. lagipula bila aku bersama Qinan akan ada tembok besar yang tidak akan bisa kami runtuhkan kepercayaan. aku dan Qinan berbeda. memang terlihat muluk bila 3 SMP seperti ku sudah memikirkan ke depan, tapi selalu ada harapan itu dalam setiap hubungan.
Qinan sedih, aku tau itu. Qinan aku gapapa kok disini, karna aku bisa ngerti posisi kamu... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar