Aku
duduk di taman sekolah sambil memperhatikan dia. ya dia.. sosok yang berhasil merebut perhatianku selama 2 tahun
ini. Aku baru mengenalnya semenjak naik ke kelas 2 SMP, awalnya aku tidak
mengenalnya, tapi karna teman-temanku suka bersamanya lambat tapi pasti aku
mengenalnya dengan baik. aku sunguh berterimakasih pada teman-teman ku yang
membuat aku mengenalnya.
Hari
ini dia sedang terduduk sendirian dikelasnya, semenjak naik ke kelas 3 dia
memang terlihat lebih murung daripada biasanya. aku menghampirinya untuk
sekedar menghiburnya sedikit, berhasil dia merasa terhibur dengan kehadiranku.
Aku mencoba naik sedikit, dengan meminta nomer telfonnya, dia memberikannya
dengan senang hati, betapa senangnya aku bila dia tidak merasa terganggu dengan
permintaanku.
Aku
ragu ketika ingin menekan tombol “sent” pada ponselku, aku sudah mengetik sms
untuk dia dari 10 menit yang lalu, namun aku belum punya cukup keberanian untuk
mengirimnya. berbagai pertanyaan berkecamuk dikepalaku, “akankah dia merasa
terganggu?”
aku
sudah menunggu ini hampir 2 tahun lamanya. aku pernah menyia-nyiakan
kesempatanku, akankah aku mengulanginya lagi kali ini? aku pernah ‘kehilngan’
dia selama 3 bulan. bayangan itu hadir, bayangan yang menampilkan saat aku
kehilangan dia..
Aku menghisap minumaku hingga
setengahnya habis, rasanya lelah sekali habis bermain futsal di tengah hari
bolong. aku sedang kumpul bersama teman-temanku dikantin sambil bercerita
ngalor-ngidul. awalnya kami bercerita tentang bola lalu cewek yang kami taksir,
hingga akhirnya membicarakan dia. aku tidak mengerti kenapa arah pembicaraan
kami jadi membawa dia. hingga akhirnya temanku edo menjawab semua rasa
penasaranku.
Edo dan dia kini sedang
dekat, dan edo ada rencana inigin menyatakan perasaanya pada dia. aku senang mendengar
edo yang sudah bisa move on, tapi kenapa harus dia orangnya. kabar bahagia yang
menjadi badai dalam diriku . Aku tau edo dan dia akhir-akhir ini memang dekat,
tapi aku tak menyangka hubungan mereka akan lebih dari sekedar sahabat.
Aku tau dimana posisi ku..
kalau dibandingkan dengan edo, jelas aku akan jauh dibawahnya. aku sudah
kehilangan start lebih awal. edo dan dia sudah dekat dari 2 bulan yang lalu,
hubungan persahabatan mereka pun sangat harmonis. aku tau dia pun juga
menyimpan perasaan untuk edo. aku harus merelakannya dengan edo..
edo dan dia akhirnya resmi
pacaran. aku senang melihat dia senang walaupun tidak bersamaku. ada kata-kata
yang bilang “cinta tak harus memiliki” aku tak percaya akan kata-kata itu, buat
ku cinta itu harus memiliki, apakah kamu sanggup melihat orang yang kamu sayang
dengan orang lain? kalau aku tidak, tidak sama sekali. namun au percaya akan
kata-kata lain “kita akan ikut senang bila melihat orang yang kita sayangi juga
senang” aku percaya itu. karna begitulah yang aku rasakan. melihat dia
tersenyum untuk edo itu sangat menyakitkan. tpai melihat dia tersenyum manis
seperti itu membuat hatiku damai. itu yang membuatku bisa bertahan.
aku tak mengerti kekuatan apa
yang dimiliki dia, hingga bisa membuatku menjadi seperti ini. aku menjadi
seorang yang jahat. melihat dia dan edo selalu harmonis membuat ku menyelipkan
sedikit doa kotor “tuhan buatlah mereka cepat putus” berdosakah aku?
Hingga maria datang ke dalam
hidupku. aku tak begitu menyukai gadis ini, bahkan aku tak menyukai gadis ini.
tapi suatu hari aku menghampirinya dan menyatakan perasaanku padanya. dia
menerimaku. yaaah. maria memang terkanal mudah menerima orang dalam
hatinya. saat aku mengabari
teman-temanku dengan kabar ini, dia meledekku “kok lu mau sih sama dia? haha
selamet yaa, jangan lupa pj yang paling banyak buat gue” tawanya dengan manis.
kini aku menjalani
hari-hariku bersama maria, dan dia masih
bersama edo. tapi hari ini aku tidak mau membohongi diriku lagi dan terus
menyakiti hati maria dengan berpura-pura bahwa aku sayang padanya. aku bukanlah
orang jahat. aku memutuskan hubunganku dengan maria, padahal baru berjalan
selama seminggu. tapi dia? dia masih bersama edo.
3 bulan kemudian terkabullah
doa kotor ku. akhirnya edo dan dia putus, aku merasa sedih saat melihat dia
menatap edo dengan tatapan nanar. tapi aku merasa bahagia karna inilah
kesempatan bagiku. tapi aku masih tidak dapat menjadi orang baik seutuhnya
lagi. aku masih seorang yang jahat, karna aku ingin seperti ini mempengaruhi
dia agar dia membenci edo.
Ternyata selain aku, dia
masih mempunyai sahabat yang begitu peduli padanya. entah apa yang dimilikinya
sampai semua orang begitu peduli dan menyayanginya. salah satunya pian,
sahabatku juga sahabatnya. kabar burung selalu menyebutkan dia dan pian telah
menjadi sepasang kekasih tetapi setiap kali aku menkonfirmasi kepadanya dia
hanya menjawab dengan tawa “lo udah berapa lama sih kenal gue sama pian? gue
sama pian gak mungkinlah, dia itu sahabat gue” jawaban itulah membuatku tenang.
harapanku terus membumbung seyiap harinya.
sudah
setahun sejak edo dan dia putus, tapi dia belum juga menemukan kekasih baru.
aku pun juga belum berani menyatakan
perasaanku padanya, gosip akan kedekatannya dengan pian pun masih terdengar
tapi selalu berhasil terbantahkan.
sudah
seminggu ini aku sms-an sama dia setelah berhasil mengumpulkan keberaniann
menekan tombol ‘sent’ malam itu. aku tidak bisa menunggu lagi, aku akan
menyatakan perasaanku malam ini juga padanya. aku sudah menunggu selama 2 tahun
apa itu masih belum cukup??
“gue
mau ngomong sesuatu nih, qi” aku berdoa sebelum berhasil menekan tombol ‘sent’
“ngomong
apa?”
“tapi
jangan marah ya? K”
“gak
lah gak akan, emang mau ngomong apa sih?”
“gue
suka sama lo qi <3” tidak ada balasan dari Qinan.
“kok
bisa?”
“gak
tau deh K”
“semenjak
kapan?”
“dari
sebelum lo jadian sama edo qi L”
“kok
lo gak bilang dari dulu”
“elu
nya udah sama edo duluan. gimana qi? L”
“gue
gak tau han mau jawab apa, gue mau fokus UN dulu”
“yaudah
deh gapapa J lo fokus
aja ke UN dulu yaa J nanti
jawabnya pas udah UN aja.”
“iya”
besok
UN. tapi aku masih tidak bisa berkonsentrasi penuh dengan pelajaran yang
diotakku hanya Qinan. UN hari pertama, aku mencari Qinan. Qinan keluar dari
ruangannnya, aku tidak berani mendekat hanya berani memperhatikannya dari jauh,
Qinan melihatku juga. ada sebersit rasa khawatir diwajahnya lalu dia tersenyum
manis seperti biasanya. sekarang aku memiliki keberanian untuk mendekat.
“hai”
sapaku, berusaha menutupi rasa canggung. aku mengangkat tangan kananku untuk mengajak
Qinan tos
“hai”
sambil membalasnya, biasanya tangan Qinan akan langsung jatuh kebawah kembali.
tapi kali ini aku membiarkan tangan Qinan tetap ada di genggamanku, Qinan pun
terlihat tidak masalah dengan itu.
“gimana
UN nya bisa gak?”
“alhamdullilah
bisa”
“gimana
jawabannya?”
“emang
sekarang ya?” Qinan malah balik bertanya
“emang
kapan lagi?”
“katanya
abis UN, gue pikir kalo abis UN itu bener-bener abis UN han”
“oh
iya iya, yaudah deh gapapa”
“yaudah
, gue pulang dulu ya han”
“ati-ati
ya”
hari
ini tangan Qinan berada dalam genggamanku, mengingat hal itu saja membuatku
senyum-senyum sendiri dikamar. apalagi kalo Qinan menerima ku menjadi
kekasihnya, aku tak bisa membayangkan kesenangan apa yang akan aku rasakan.
hari
yang aku tunggu-tunggupun datang. aku tidak bisa menebak jawaban apa yang akan
diberikan Qinan padaku. aku tidak berkonsentras pada LJK dihapanku, aku
memutuskan untuk mengumpulkan lebih cepat. saat keluar kelas, aku melihat Qinan
sedang berdiri ditangga, aku ingin menghampirinya tapi aku teralu takut,
kakipun kaku. ku urungkan niatku. tapi aku merasa Qinan menungguku
menghampirinya, tapi aku masih (berpura-pura) asik dengan teman-temanku.
aku
tidak bisa berakting lagi tidak memperdulikan Qinan, aku segera menghampirinya.
tapi saat aku mendekat Qinan malah menghindariku, dia pergi ke pendopo sekolah
bersama teman-temannya. saat pengumuman di pendopo aku terus memperhatikan
Qinan yang duduk jauh dariku, aku tau sesekali Qinan pun memperhatikan aku.
bubaran pengumuman aku menhampiri Qinan.
“Qinan.
gimana UN nya?” seperti biasa aku mengangkat tangan
“lancar,
lancar” Qinan menyambutnya. lagi, tangan Qinan ada digenggamanku. Qinan
memperhatikan tangannya yang ada dalam genggaman ku dan tersenyum samar. tapi
aku tak bisa menyembunyikan rasa senangku, sangking tak bisa menyembunyikan
perasaanku aku malah pergi meninggalkan Qinan.
“gue
ngumpul sama anak-anak ya” Qinan hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan.
Aku
duduk di bawah pohon diujung lapangan basket bersama teman-temanku. aku tak
sabar mendengar jawaban Qinan,tapi aku tak punya keberanian untuk
menanyakannya.
aku
mendengar suara Qinan dan teman-temannya. dia akan pulang. tapi dia belum
menjawab pertanyaanku. aku berfikir untuk meminta jawabannya lewat sms saja.
sampai salah satu temanku rexi nyeletuk yang bikin nyawa ku mau copot “Qinan,
jawab dong ini si rehan!”
“loh
emang kenapa?” tanya Doni
“si
Rehan kan nembak Qinan’
“oh.”
doni beroh pangjang “gimana Qi?”
“lo
beneran suka gak sih sama gue han?”
aku
menghampiri Qinan, dan berdiri tegak dihadapannya “iya qi.dari sebelum lo sama
Edo”
“tapi
kenapa gak dari dulu aja han? kenapa gak dari dulu lo deketin gue, malah
ngebiarin gue sama Edo”
“karna
gue rasa gue gak punya kesempatan”
“tapi
gue gak bisa percaya. apalagi lo baru ngedeketin gue seminggu doang”
“qi,
gue harus ngapain lagi sih biar lo percaya?”
“makan
tanah aja han” suruh dira tapi maksudnya becanda. Rehan yang sedang tidak
bercanda langsung mengiyakan perintah dira. aku mengambil sedikit tanah dan
memasukannya ke dalam mulut.
“rehan”
teriak Qinan kaget “gak perlu gitu”
“gapapa.
biar lo percaya sama gue”
Qinan
sudah akan mengatakn ‘ya’ tapi sahabatnya Rere mengingatkannya untuk jujur pada
perasaannya. “maaf han, gue gak bisa.”
“oh
yaudah gapapa” aku bersikap seolah tidak terjadi apa-apa padaku, aku memberikan
senyum sebisaku pada Qinan. aku hancur. aku berusaha menghindari Qinan
“maaf
han, lo gak marah kan sama gue”
“gak
lah, gapapa Qi”
aku
dan hatiku hancur. tak bisa aku mendeskripsikan betapa hancurnya aku saat ini.
aku tidak bisa membenci Qinan. aku mengerti posisinya dia juga sakit sama
seperti aku. aku yang salah. aku selalu menyia-nyiakan kesempatan yang ada, aku
tak pernah menunjukan rasa sayangku ini pada Qinan, aku hanya menunjukannya
lewat hal-hal tersamar. perhatianku masih kalah dengan perhatian pian kepada
Qinan. perjuanganku tak sebesar perjuagan Edo untuk mendapatkan Qinan. aku
hanya mendekati Qinan selama seminggu, jelas Qinan tidak akan percaya padaku.
lagipula bila aku bersama Qinan akan ada tembok besar yang tidak akan bisa kami
runtuhkan kepercayaan. aku dan Qinan berbeda. memang terlihat muluk bila 3 SMP
seperti ku sudah memikirkan ke depan, tapi selalu ada harapan itu dalam setiap
hubungan.
Qinan sedih, aku
tau itu. Qinan aku gapapa kok disini, karna aku bisa ngerti posisi kamu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar