seperti biasa aku menyusuri lorong
sekolah yang penuh sesak dengan murid-murid lainnya bersama ketiga temen
terbaikku.. tari, meri, dan riris. tapi tak seperti biasanya, lorong kali ini
agak sunyi, kebanyakan mereka sekarang sedang berkumpul didepan kelas meri
entah apa yang mereka lakukan, “ada apa mer? kok dikelas kamu rame banget?”
tanyaku pada meri, sambil mencuri-curi pandang akankah aku akan melihat “DIA”.
“aku juga gak tau” aku dan
teman-temankupun tanpa diaba-aba refleks langsung mencari tau apa yang terjadi.
sesampainya didepan kelas meri kami masih belum juga mengetahui apa yang
terjadi. “ta, ada apa sih? kok rame banget?” tanya meri pada temen sekelasnya
yang lain.
“itu, si dion sama dyah putus ” jawab
temen sekelas meri itu dengan cuek. “kok dyah sama dion putus sampe ribut gitu
ya? penting juga enggak buat sekolah” kata gadis bermata sipit itu sambil
melengos pergi. “dion putus sama dyah?” gumam riris sendiri. refleks ketiga
temanku, menatapku.
“kenapa?” tanyaku tak mengerti.
sepertinya tanpa harus menunggu mereka menjawabku,. aku sudah tau apa yang ada
dipikiran mereka, aku langsung melengos pergi menjauh dari kelas meri. “hei,
kamu mau kemana?” tanya meri, teman-temankupun kontan ikut mengejarku, menjauh dari
kelas itu.
“kamu sedih?” tanya riris to the point.
aku kaget dengan pertanyaan riris barusan, karna aku sendiri juga bingung
dengan perasaanku sendiri, aku senang karna dion putus dengan dyah, karna
memang dari awal semester 3 lalu aku telah menyukai cowok dingin itu, tapi
disisi lain aku tau, pasti dion sedang sedih karna baru putus dari dyah, aku
tidak mau melihat dion sedih, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. aku
hanya bisa berdoa agar Tuhan bisa membuang jauh perasaan sedih itu dari hatinya
secepat mungkin.
“enggak, buat apa aku sedih?” tanyaku
balik, aku berharap tidak ada pertanyaan kembali dari ke3 temanku yang dapat
memojokan aku. “karna kamu suka sama dia.” jawab riris mantap
“loh,kok kamu malah sedih? harusnya kamu
seneng dong karna dia putus sama dyah, kan kalo dia putus sama dyah artinya
kamu punya kesempatan buat deket sama dion” kata meri polos. tari yang
mendengar itu, jadi jengkel sendiri dan mencubit pipi temannya yang sangat
polos itu dengan gemas.
“aku tau kok apa yang kamu rasain, seneng
tapi juga sedih.. seneng karna kamu ada kesempatan buat sama dion, tapi sedih
juga karna pasti sekarang hatinya dion lagi sedih banget karna baru aja putus
sama dyah,, iya kan?” kata-kata riris itu langsung menusuk hatiku, entah kenapa
aku merasa riris selalu bisa membaca isis kepalaku.
“eh,eh ada dion” kata tari, mataku ini
tanpa harus diperintah langsung mencari sosok cowok dingin, berkulit putih itu.
mataku langsung menemukan wajah yang masih tetap terlihat tenang dari “DIA”.
perasaanku membaik, dengan melihat raut wajahnya yang seperti itu aku merasa
dia tidak teralu terpuruk dengan putusnya hubungannya dengan dyah. tapi kenapa
aku merasa, langkah dia semakin terarah kepada diriku?
“dion nyamperin kita” kata meri. ternya
itu bukan hanya perasaanku saja, dion benar-benar menghampiri kami. aku tidak
berani menatapnya, sama sekali tidak berani. mungkin detik ini juga dion bisa
tu perasaanku yang sudah 1 tahun lebih ini aku pendam untuknya, karna aku sama
sekali tidak bisa mengotrol hatiku, aku tidak bisa jaim didepan dia seperti
biasanya, ya Tuhan, bantulah aku.
“ngapain lu?” tanya tari
“gue pengen ngomong sesuatu sama lia,”
jawab dion dengna pasti. spontan aku yang dari tadi hanya menunduk langsung
mendongak dan menatap cowok yang sudah satu tahun ini membuat hatiku tidak
dapat berpindah kelain hati.
“mau ngomong apaan?” tanya tari lagi.
“pertama, gue mau minta maaf karna
mungkin sekarang bukan waktu yang tepat buat ngomong kayak gini, tapi gue udah
gak tahan” katanya dengan ekspresi lelah.
“emang mau ngomong apa?” aku akhirnya
angkat bicara.
“mungkin lo akan berfikir gue itu playboy
karna gue baru putus tapi udah mau nembak cewek lagi sekarang” katanya dengan
senyuman miris “tapi gue udah gak bisa bohongin perasaan gue sendiri”. otakku
langsung berfikir apakah dion akan menyatakan cintanya padaku, tapi itu tidak
mungkin, untuk dekat dengan dion saja aku harus berjuang mati-matian, mana
mungkin dion suka padakku. “maksud lo?” aku mencoba memperjelas kata-kata dion
barusan
“gue suka sama lo, lia” katanya tegas dan
pasti.
“hah??” terdengar teriakan pelan yang
syarat akan kebingungan dari ke3 temanku.
“gue suka sama lo, semenjak kita masih
dikelas2, tapi gue gak berani ngungkapin itu,
karna gue takut ditolak sama lo, lo itu pinter, sedangkan gue gak remed
aja udah syukur banget. tadinya gue berfikir gue mau nembak lo pas akhir
semester 4, biar gue bisa buktiin sama
lo, gue layak jadi pedamping aliya yang pinter, gue gak mau bikin lo malu karna
pacaran sama gue dion, yang gak pinter-pinter amat dan nyebelin banget, gue
pengen nunjukin kalo gue punya kelebihan” dion memberi jeda dikata-katanya
“tapi ternyata lo sekarang udah ada sama yang lain. yaaah, sekarang gue bisa apa? lo udah jadi milik yang lain. dan
gue? gue Cuma bisa ngumpet dibalik sosok dyah,”
“trus sekarang?” tanya riris
“ris, gue tau kok lia udah sama yang
lain, gue juga gak mungkin minta lia untuk lebih milih gue dari pada cowoknya
yang sekarang, gue Cuma pengen jujur sama dia tentang perasaan gue. oh, iya..
lia gue udah tau kok kalo sebenernya lo suka sama gue dari awal kita kelas 2”
kata dion seraya memberi senyum termanisnya.
“kalo misalnya lo udah tau kalo lia suka
sama lo dari dulu, kenapa lo gak nembak lia? hah?” tanya tari agak emosi
“gue Cuma pengen ngetes lia doang.”
“ngetes? ngetes buat apa?” tanya riris
“gue pernah disakitin, dan gue gak mau
disakitin lagi, gue nunggu sampe akhir semester4 Cuma pengen tau, lia bisa gak
bertahan nungguin gue sampe akhir semester4. taunya gak bisa” jawab dion dengan
suara yang mulai melemah. aku sudah tidak bisa menahan air mata untuk tidak
meneteskan air mata.
“tapi lia itu gak mungkin nyakitin lo, dion.
dia itu sayang banget sama lo. dia gak mungkin nyakitin orang yang dia sayang.
lo gak tau aja kalo lia udah sayang sama orang kayak gimana.” sekarang giliran
meri yang angkat bicara.
sampai sore haripun aku masih Cuma bisa
termenung dikamar, aku masih belum bisa percaya dengan apa yang barusanku alami
“apa ini kenyataan, atau hanya khayalanku
yang teralu tinggi karna aku gak bisa dapetin dion. dion nembak aku? itu gak
mungkin banget. tapi tadi setelah peristiwa itu aku udah nyubitin pipi aku
berkali-kali dan rasanya tetep sama ‘sakit’ jadi itu bukan mimpi atau khayalan
dion beneran nembak aku, tapi... kenapa
baru sekarang? kenapa gak dari dulu aja? disaat aku bener-bener sayang sama
dia, walaupun harus aku akuin sampe detik ini aku gak bisa lupa juga sama dia.”
“aku udah coba ngelupain dia, tapi malah
jadi sakit sendiri aku, tapi kenapa sekarang? disaat yang gak tepat gini. aku
udah punya udin sekarang, yah.. walaupun hubungan aku sama udin adalah hubungan
tanpa status, tapi udin sudah menganggapku pacarnya, dan akupun begitu walau
kami bukan pacaran, dion datang sekarang? sekarang sudah terlambat, telat,
kenpa gak dari dulu aja?”
“tapi tadi dia bilang dia ngetes aku?
buat apa dia ngetes aku, kalo misalnya dia gak sayang sama aku. ya Tuhan aku
harus gimana sekarang?”
aku berbaring ditempat tidur, memikirkan
jalan keluar apa yang terbaik sekarang.. yah, walaupun dion memang tidak
meminta jawaban tapi aku merasa dia harus mendapat jawaban dariku.
aku menghubungi riris dan meri secara
bersamaan, tapi aku tidak menghubungi tari, karna dia sekarang sedang les.
sekitar sejam aku menceritakan semua keluh kesahku pada mereka berdua. kadang
mereka berdua men-judge dion tapi disisi lain mengasihi dion juga, itu membuat
aku bingung. kata-kata yang paling sering keluar dari mulutku adalah kata
“telat”.
aku sudah menunggunya setahun lebih, tapi
dia tak kunjung datang juga, dan sekarang dia datang membawa harapan yang
sangat aku impi-impikan sejak dulu, tapi kenapa sekarang? sekarang aku sudah
punya udin, walaupun perasaanku masih milik dion tapi aku tidak mungkin
meninggalkan udin begitu saja. kenapa dia harus menunggu sampai akhir semester4
untuk menyatakan cintanya padaku, apa yang perlu dites dari diriku.
tak sadar air mataku kembali membasahi
pipiku, aku tidak ingin menahan tangisku, aku ingin menangis sejadi-jadinya
melepaskan bebanku sedikit, walaupun aku tau menangis tidak akan menyelesaikan
masalahku.
aku mencintainya dari awal kelas2, tapi
dia tak pernah meresponku, bahkan sedikitpun.. aku sudah ingin belajar
melupakannya, tapi dia seolah-olah melarangku untuk tidak melupakannya lewat
bayangan fatamorgana, aku belajar kembali melupakannya, dengan udin berada di
sisiku saat ini, tapi kenapa dia malah menyatakan perasaannya padaku? dan dia
berkata bahwa dia juga menyukaiku dari awal, tapi menunggu waktu yang pas untuk
mengungkapkannya.
kemarin malam udin menelponku menanyakan
keadaanku, apa aku baik-baik saja.. lalu dia bertanya apa jawabanku untuk dion,
aku tersentak kaget, dari mana dia bisa tau masalah ini, hari ini dia akan
datang kesekolah untuk menjemputku, walaupun akau sudah bersikeras menolak,
tapi dia akan tetap menjemputku.
hari ini, kau tidak melihat dia, sosok
yang membuatku semalaman tadi tidak bisa tidur karna memikirkannya.. dari belakang
ada yang menepuk pundakku halus, aku berbalik dan mendapati “DIA” ada didepanku
sekarang.
“hai, ngapain? kok sendirian?” tanyanya
dengan senyum manisnya
“hah, gak ngapa-ngapain kok,, lo
sendiri?” tanyaku kembali mencoba tidak terlihat salting didepannya, apalagi
aku tidak ditemani riris atau meri sekarang.
“lagi nyari temen buat diajak pulang”
katanya dengan mata agak menggoda kearahku “lo mau pulang bareng?” tanyanya
padaku, oh Tuhan sudah sejak lama aku menginginkan hal itu, tanpa harus berfikir panjang lagi aku akan
mengatakan iya,, tapi belum aku mengatakan itu, aku teringat bahwa udin akan
menjemputku hari ini. hatiku yang tadinya mekar, kembali layu karna teringat
hal itu.
“maaf dion, gue gak bisa, gue dijemput,
lain kali aja ya??” kata ku lemas. terlihat raut kekecewaan dari wajahnya
“oh, yaudah gapapa., tapi lain kali bisa
kan??” katanya mencoba seceria mungkin “emang mau dijempu sama siapa?”
“pasti” kataku dengan senyum, bersyukur
karna dia masih mau mengantarku pulang suatu hari nanti. tapi aku tidak bisa
menjawa pertanyaan dia yang terakhir
“eh, kalian berdua..” panggil seseoarang
dari arah belakangku dan dion, ternyata itu riris, terimakasih Tuhan aku tidak
harus menjawab pertanyaan berat dari dion barusan “kalian ngapain?
“gue lagi nyari temen pulang, tadinya mau
ngajak lia, tapi ternyata lia udah ada yang jemput duluan” kata dion lirih tapi
berusaha tetap ceria
“hah? yang bener li? emang mau dijemput
sama siapa??” tanya riris, aduuuh, riris kenapa kamu harus menanyakan itu
padaku.
orang yang akan menjemputkupun hadir, aku
bingung aku harus melakukan apa sekarang.
“kak udin?” terdengar suara kaget
tertahan dari riris “jadi kak udin yang mau jemput lo?” tanya riris memastikan.
“iya” jawabku lemah
“eh, gue pulang duluan ya?? udah mau
ujan. lo mau bareng gue ris?” dion berusaha menghindar dari kak udin dan aku,
“ah, enggak usah, gue bareng juno kok”
jawab riris
“oh,yaudah gue duluan ya ris, li” dionpun
meninggalkan riris, lia dan udin.
“li kita pulang sekarang yuk? ntar
keujanan juga lagi?” ajak udin, aku hanya menganggukan kepala sebagai tanda
persetujuan “ris, kakak sama lia pulang duluan ya?” ririspun hanya menganggukan
kepala.
aku hanya bisa berjalan mengekor
mengikuti udin dari belakang sembari tertunduk lemas, tanpa sadar ternyata udin
membawaku ke pojokan warung yang sudah tutup. “ngapain kita kesini?” tanyaku
bingung, udin terlihat amat marah.
“siapa cowok tadi, kenapa kayaknya kamu
gak bisa berkutik sedikitpun waktu ada dia?” tanya udin dengan suara yang
sangat marah. “dia dion kan? cowok impian kamu itu? kenapa kamu harus bersikap
kayak gitu depan dia? oh yaa.. kamu masih suka kan sama dia? ngaku deh??”
emosikupun ikut terpancing “kalo cowok
tadi itu bener dion kenapa? dan kalo aku masih suka juga sama dia emang kenapa?
emang ada masalah sama kamu? kamu bukan siapa, siapa aku ya? kamu gak berhak
ngatur-ngatur aku, kamu bukan pacar aku” kataku mencoba menentang udin, aku
memang agak kesal dengan sikap udin akhir-akhir ini padaku.
“oh begitu sekarang.. sekarang aku minta
kamu lupain dia?”
“aku gak mau”
“kamu harus mau!!”
“kalo aku tetep gak mau, terus kamu mau
apa??” reflek udin melayangkan tangan kanannya kepipiku, tapi sebelum itu
terjadi dion sudah menahannya terlebih dahulu. apa dion? kenapa dia masih
disini??
“jangan pernah kasar sama cewek” katanya
marah pada udin
“gue kasar juga karna dia gak mau
dengerin kata-kata gue, dan itu karna lo”
“hmm, bagus dong.. artinya dia gak salah
ambil keputusan”
“maksud lo?”
“heh, gue peringatin lo ya? jangan pernah
kasar sama lia, karna lo bukan siapa-siapa buat lia, ngerti?” bentak dion pada
udin, lalu dion menarik tanganku dan membawaku bersamanya, meninggalkan udin
yang masih marah dipojok warung yang sydah tutup.
“nih pake, gue anter lo pulang?” dia
menyodorkan sebuah helm padaku, aku langsung menerimanya, memakainya, dan naik
keboncengan. “lo gak usah khawatir, lo aman sama gue” katanya membuat hatiku
tenang dan sangat hangat “ya” hanya itu jawaban yang bisa terlontar dari
bibirku saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar