Sabtu, 21 Januari 2012

penantian 1 tahun :')



seperti biasa aku menyusuri lorong sekolah yang penuh sesak dengan murid-murid lainnya bersama ketiga temen terbaikku.. tari, meri, dan riris. tapi tak seperti biasanya, lorong kali ini agak sunyi, kebanyakan mereka sekarang sedang berkumpul didepan kelas meri entah apa yang mereka lakukan, “ada apa mer? kok dikelas kamu rame banget?” tanyaku pada meri, sambil mencuri-curi pandang akankah aku akan melihat “DIA”.
“aku juga gak tau” aku dan teman-temankupun tanpa diaba-aba refleks langsung mencari tau apa yang terjadi. sesampainya didepan kelas meri kami masih belum juga mengetahui apa yang terjadi. “ta, ada apa sih? kok rame banget?” tanya meri pada temen sekelasnya yang lain.
“itu, si dion sama dyah putus ” jawab temen sekelas meri itu dengan cuek. “kok dyah sama dion putus sampe ribut gitu ya? penting juga enggak buat sekolah” kata gadis bermata sipit itu sambil melengos pergi. “dion putus sama dyah?” gumam riris sendiri. refleks ketiga temanku, menatapku.
“kenapa?” tanyaku tak mengerti. sepertinya tanpa harus menunggu mereka menjawabku,. aku sudah tau apa yang ada dipikiran mereka, aku langsung melengos pergi menjauh dari kelas meri. “hei, kamu mau kemana?” tanya meri, teman-temankupun kontan ikut mengejarku, menjauh dari kelas itu.
“kamu sedih?” tanya riris to the point. aku kaget dengan pertanyaan riris barusan, karna aku sendiri juga bingung dengan perasaanku sendiri, aku senang karna dion putus dengan dyah, karna memang dari awal semester 3 lalu aku telah menyukai cowok dingin itu, tapi disisi lain aku tau, pasti dion sedang sedih karna baru putus dari dyah, aku tidak mau melihat dion sedih, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. aku hanya bisa berdoa agar Tuhan bisa membuang jauh perasaan sedih itu dari hatinya secepat mungkin.
“enggak, buat apa aku sedih?” tanyaku balik, aku berharap tidak ada pertanyaan kembali dari ke3 temanku yang dapat memojokan aku. “karna kamu suka sama dia.” jawab riris mantap
“loh,kok kamu malah sedih? harusnya kamu seneng dong karna dia putus sama dyah, kan kalo dia putus sama dyah artinya kamu punya kesempatan buat deket sama dion” kata meri polos. tari yang mendengar itu, jadi jengkel sendiri dan mencubit pipi temannya yang sangat polos itu dengan gemas.
“aku tau kok apa yang kamu rasain, seneng tapi juga sedih.. seneng karna kamu ada kesempatan buat sama dion, tapi sedih juga karna pasti sekarang hatinya dion lagi sedih banget karna baru aja putus sama dyah,, iya kan?” kata-kata riris itu langsung menusuk hatiku, entah kenapa aku merasa riris selalu bisa membaca isis kepalaku.
“eh,eh ada dion” kata tari, mataku ini tanpa harus diperintah langsung mencari sosok cowok dingin, berkulit putih itu. mataku langsung menemukan wajah yang masih tetap terlihat tenang dari “DIA”. perasaanku membaik, dengan melihat raut wajahnya yang seperti itu aku merasa dia tidak teralu terpuruk dengan putusnya hubungannya dengan dyah. tapi kenapa aku merasa, langkah dia semakin terarah kepada diriku?
“dion nyamperin kita” kata meri. ternya itu bukan hanya perasaanku saja, dion benar-benar menghampiri kami. aku tidak berani menatapnya, sama sekali tidak berani. mungkin detik ini juga dion bisa tu perasaanku yang sudah 1 tahun lebih ini aku pendam untuknya, karna aku sama sekali tidak bisa mengotrol hatiku, aku tidak bisa jaim didepan dia seperti biasanya, ya Tuhan, bantulah aku.
“ngapain lu?” tanya tari
“gue pengen ngomong sesuatu sama lia,” jawab dion dengna pasti. spontan aku yang dari tadi hanya menunduk langsung mendongak dan menatap cowok yang sudah satu tahun ini membuat hatiku tidak dapat berpindah kelain hati.
“mau ngomong apaan?” tanya tari lagi.
“pertama, gue mau minta maaf karna mungkin sekarang bukan waktu yang tepat buat ngomong kayak gini, tapi gue udah gak tahan” katanya dengan ekspresi lelah.
“emang mau ngomong apa?” aku akhirnya angkat bicara.
“mungkin lo akan berfikir gue itu playboy karna gue baru putus tapi udah mau nembak cewek lagi sekarang” katanya dengan senyuman miris “tapi gue udah gak bisa bohongin perasaan gue sendiri”. otakku langsung berfikir apakah dion akan menyatakan cintanya padaku, tapi itu tidak mungkin, untuk dekat dengan dion saja aku harus berjuang mati-matian, mana mungkin dion suka padakku. “maksud lo?” aku mencoba memperjelas kata-kata dion barusan
“gue suka sama lo, lia” katanya tegas dan pasti.
“hah??” terdengar teriakan pelan yang syarat akan kebingungan dari ke3 temanku.
“gue suka sama lo, semenjak kita masih dikelas2, tapi gue gak berani ngungkapin itu,  karna gue takut ditolak sama lo, lo itu pinter, sedangkan gue gak remed aja udah syukur banget. tadinya gue berfikir gue mau nembak lo pas akhir semester 4, biar gue  bisa buktiin sama lo, gue layak jadi pedamping aliya yang pinter, gue gak mau bikin lo malu karna pacaran sama gue dion, yang gak pinter-pinter amat dan nyebelin banget, gue pengen nunjukin kalo gue punya kelebihan” dion memberi jeda dikata-katanya “tapi ternyata lo sekarang udah ada sama yang lain. yaaah, sekarang gue  bisa apa? lo udah jadi milik yang lain. dan gue? gue Cuma bisa ngumpet dibalik sosok dyah,”
“trus sekarang?” tanya riris
“ris, gue tau kok lia udah sama yang lain, gue juga gak mungkin minta lia untuk lebih milih gue dari pada cowoknya yang sekarang, gue Cuma pengen jujur sama dia tentang perasaan gue. oh, iya.. lia gue udah tau kok kalo sebenernya lo suka sama gue dari awal kita kelas 2” kata dion seraya memberi senyum termanisnya.
“kalo misalnya lo udah tau kalo lia suka sama lo dari dulu, kenapa lo gak nembak lia? hah?” tanya tari agak emosi
“gue Cuma pengen ngetes lia doang.”
“ngetes? ngetes buat apa?” tanya riris
“gue pernah disakitin, dan gue gak mau disakitin lagi, gue nunggu sampe akhir semester4 Cuma pengen tau, lia bisa gak bertahan nungguin gue sampe akhir semester4. taunya gak bisa” jawab dion dengan suara yang mulai melemah. aku sudah tidak bisa menahan air mata untuk tidak meneteskan air mata.
“tapi lia itu gak mungkin nyakitin lo, dion. dia itu sayang banget sama lo. dia gak mungkin nyakitin orang yang dia sayang. lo gak tau aja kalo lia udah sayang sama orang kayak gimana.” sekarang giliran meri yang angkat bicara.
“iya, itu emang kesalahan gue, dan gue menyesali itu banget sekarang, kenapa gue harus ada pikiran untuk ngetes dia” dion menghela napas “gue nyesel,.. tapi sekarang apa yang bisa gue perbuat? lagian lia juga udah sama cowoknya. gue turut bahagia buat lo sama cowoklo ya?” kata dion dengan senyum manis yang agak dipaksakan, dan dionpun pergi meninggalkan keempat cewek itu, dengan meninggalkan perasaan bersalah pada hati seorang gadis.

sampai sore haripun aku masih Cuma bisa termenung dikamar, aku masih belum bisa percaya dengan apa yang barusanku alami
“apa ini kenyataan, atau hanya khayalanku yang teralu tinggi karna aku gak bisa dapetin dion. dion nembak aku? itu gak mungkin banget. tapi tadi setelah peristiwa itu aku udah nyubitin pipi aku berkali-kali dan rasanya tetep sama ‘sakit’ jadi itu bukan mimpi atau khayalan dion beneran  nembak aku, tapi... kenapa baru sekarang? kenapa gak dari dulu aja? disaat aku bener-bener sayang sama dia, walaupun harus aku akuin sampe detik ini aku gak bisa lupa juga sama dia.”
“aku udah coba ngelupain dia, tapi malah jadi sakit sendiri aku, tapi kenapa sekarang? disaat yang gak tepat gini. aku udah punya udin sekarang, yah.. walaupun hubungan aku sama udin adalah hubungan tanpa status, tapi udin sudah menganggapku pacarnya, dan akupun begitu walau kami bukan pacaran, dion datang sekarang? sekarang sudah terlambat, telat, kenpa gak dari dulu aja?”
“tapi tadi dia bilang dia ngetes aku? buat apa dia ngetes aku, kalo misalnya dia gak sayang sama aku. ya Tuhan aku harus gimana sekarang?”
aku berbaring ditempat tidur, memikirkan jalan keluar apa yang terbaik sekarang.. yah, walaupun dion memang tidak meminta jawaban tapi aku merasa dia harus mendapat jawaban dariku.
aku menghubungi riris dan meri secara bersamaan, tapi aku tidak menghubungi tari, karna dia sekarang sedang les. sekitar sejam aku menceritakan semua keluh kesahku pada mereka berdua. kadang mereka berdua men-judge dion tapi disisi lain mengasihi dion juga, itu membuat aku bingung. kata-kata yang paling sering keluar dari mulutku adalah kata “telat”.
aku sudah menunggunya setahun lebih, tapi dia tak kunjung datang juga, dan sekarang dia datang membawa harapan yang sangat aku impi-impikan sejak dulu, tapi kenapa sekarang? sekarang aku sudah punya udin, walaupun perasaanku masih milik dion tapi aku tidak mungkin meninggalkan udin begitu saja. kenapa dia harus menunggu sampai akhir semester4 untuk menyatakan cintanya padaku, apa yang perlu dites dari diriku.
tak sadar air mataku kembali membasahi pipiku, aku tidak ingin menahan tangisku, aku ingin menangis sejadi-jadinya melepaskan bebanku sedikit, walaupun aku tau menangis tidak akan menyelesaikan masalahku.
aku mencintainya dari awal kelas2, tapi dia tak pernah meresponku, bahkan sedikitpun.. aku sudah ingin belajar melupakannya, tapi dia seolah-olah melarangku untuk tidak melupakannya lewat bayangan fatamorgana, aku belajar kembali melupakannya, dengan udin berada di sisiku saat ini, tapi kenapa dia malah menyatakan perasaannya padaku? dan dia berkata bahwa dia juga menyukaiku dari awal, tapi menunggu waktu yang pas untuk mengungkapkannya.
kemarin malam udin menelponku menanyakan keadaanku, apa aku baik-baik saja.. lalu dia bertanya apa jawabanku untuk dion, aku tersentak kaget, dari mana dia bisa tau masalah ini, hari ini dia akan datang kesekolah untuk menjemputku, walaupun akau sudah bersikeras menolak, tapi dia akan tetap menjemputku.
hari ini, kau tidak melihat dia, sosok yang membuatku semalaman tadi tidak bisa tidur karna memikirkannya.. dari belakang ada yang menepuk pundakku halus, aku berbalik dan mendapati “DIA” ada didepanku sekarang.
“hai, ngapain? kok sendirian?” tanyanya dengan senyum manisnya
“hah, gak ngapa-ngapain kok,, lo sendiri?” tanyaku kembali mencoba tidak terlihat salting didepannya, apalagi aku tidak ditemani riris atau meri sekarang.
“lagi nyari temen buat diajak pulang” katanya dengan mata agak menggoda kearahku “lo mau pulang bareng?” tanyanya padaku, oh Tuhan sudah sejak lama aku menginginkan hal itu,  tanpa harus berfikir panjang lagi aku akan mengatakan iya,, tapi belum aku mengatakan itu, aku teringat bahwa udin akan menjemputku hari ini. hatiku yang tadinya mekar, kembali layu karna teringat hal itu.
“maaf dion, gue gak bisa, gue dijemput, lain kali aja ya??” kata ku lemas. terlihat raut kekecewaan dari wajahnya
“oh, yaudah gapapa., tapi lain kali bisa kan??” katanya mencoba seceria mungkin “emang mau dijempu sama siapa?”
“pasti” kataku dengan senyum, bersyukur karna dia masih mau mengantarku pulang suatu hari nanti. tapi aku tidak bisa menjawa pertanyaan dia yang terakhir
“eh, kalian berdua..” panggil seseoarang dari arah belakangku dan dion, ternyata itu riris, terimakasih Tuhan aku tidak harus menjawab pertanyaan berat dari dion barusan “kalian ngapain?
“gue lagi nyari temen pulang, tadinya mau ngajak lia, tapi ternyata lia udah ada yang jemput duluan” kata dion lirih tapi berusaha tetap ceria
“hah? yang bener li? emang mau dijemput sama siapa??” tanya riris, aduuuh, riris kenapa kamu harus menanyakan itu padaku.
orang yang akan menjemputkupun hadir, aku bingung aku harus melakukan apa sekarang.
“kak udin?” terdengar suara kaget tertahan dari riris “jadi kak udin yang mau jemput lo?” tanya riris memastikan.
“iya” jawabku lemah
“eh, gue pulang duluan ya?? udah mau ujan. lo mau bareng gue ris?” dion berusaha menghindar dari kak udin dan aku,
“ah, enggak usah, gue bareng juno kok” jawab riris
“oh,yaudah gue duluan ya ris, li” dionpun meninggalkan riris, lia dan udin.
“li kita pulang sekarang yuk? ntar keujanan juga lagi?” ajak udin, aku hanya menganggukan kepala sebagai tanda persetujuan “ris, kakak sama lia pulang duluan ya?” ririspun hanya menganggukan kepala.
aku hanya bisa berjalan mengekor mengikuti udin dari belakang sembari tertunduk lemas, tanpa sadar ternyata udin membawaku ke pojokan warung yang sudah tutup. “ngapain kita kesini?” tanyaku bingung, udin terlihat amat marah.
“siapa cowok tadi, kenapa kayaknya kamu gak bisa berkutik sedikitpun waktu ada dia?” tanya udin dengan suara yang sangat marah. “dia dion kan? cowok impian kamu itu? kenapa kamu harus bersikap kayak gitu depan dia? oh yaa.. kamu masih suka kan sama dia? ngaku deh??”
emosikupun ikut terpancing “kalo cowok tadi itu bener dion kenapa? dan kalo aku masih suka juga sama dia emang kenapa? emang ada masalah sama kamu? kamu bukan siapa, siapa aku ya? kamu gak berhak ngatur-ngatur aku, kamu bukan pacar aku” kataku mencoba menentang udin, aku memang agak kesal dengan sikap udin akhir-akhir ini padaku.
“oh begitu sekarang.. sekarang aku minta kamu lupain dia?”
“aku gak mau”
“kamu harus mau!!”
“kalo aku tetep gak mau, terus kamu mau apa??” reflek udin melayangkan tangan kanannya kepipiku, tapi sebelum itu terjadi dion sudah menahannya terlebih dahulu. apa dion? kenapa dia masih disini??
“jangan pernah kasar sama cewek” katanya marah pada udin
“gue kasar juga karna dia gak mau dengerin kata-kata gue, dan itu karna lo”
“hmm, bagus dong.. artinya dia gak salah ambil keputusan”
“maksud lo?”
“heh, gue peringatin lo ya? jangan pernah kasar sama lia, karna lo bukan siapa-siapa buat lia, ngerti?” bentak dion pada udin, lalu dion menarik tanganku dan membawaku bersamanya, meninggalkan udin yang masih marah dipojok warung yang sydah tutup.
“nih pake, gue anter lo pulang?” dia menyodorkan sebuah helm padaku, aku langsung menerimanya, memakainya, dan naik keboncengan. “lo gak usah khawatir, lo aman sama gue” katanya membuat hatiku tenang dan sangat hangat “ya” hanya itu jawaban yang bisa terlontar dari bibirku saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar